oleh

Pengurus Relawan “KOKO TAK BONG” Bengkulu Utara Terbentuk

Bengkulu Utara – Ajang pemilihan kepala Daerah Bupati dan Wakil Bengkulu Utara 9 Desember mendatang antara petahana Mian-Arie melawan Kolom Kosong atau yang disebut dengan “KOKO TAK BONG” yang artinya Kolom Kosong Tak Pernah Berbohong mulai terbentuk, Kamis (17/09/2020) sekitar pukul 14.55 WIB di Kantor Sekretariat Partai Bekarya Kabupaten Bengkulu Utara.

Dimana panitia formatur pembentukan pengurus tim relawan kolom kosong dengan lima partai politik yaitu partai Perindo, Berkarya, Demokrat, Garuda, dan PSI.

Untuk pengurus relawan “KOKO TAK BONG” Bengkulu Utara untuk saat ini baru terbentuk Ketua, Sekretaris dan Bendahara. Untuk Ketua dijabat oleh Dedy Syafroni, Sekretaris dijabat oleh Asmadi R Lee, dan Bendahara dijabat oleh Pondi.

Ketua terpilih Relawan “KOKO TAK BONG” Bengkulu Utara, Dedy Syafroni mengungkapkan untuk saat ini memang dibentuk terlebih dahulu ketua, sekretaris dan bendahara. Baru nantinya susunan kepengurusan yang lain bakal dibentuk dalam waktu dekat. Dan tidak menutup kemungkinan pihaknya bakal melakukan rapat dan berkomunikasi lagi dengan seluruh relawan “KOKO TAK BONG” Bengkulu Utara.

“Hari ini memang kita bentuk ketua, bendahara dan sekretaris terlebih dahulu. Baru untuk kepengurusan lainnya kita bentuk. Kita disini berkumpul untuk menyatukan persepsi dan pemahaman bersama. Pada prinsipnya kami sangat mendukung program pemerintah. Kami disini menyatukan persepsi dan pemahaman. Kami juga menyuarakan kepada masyarakat agar masyarakat jangan golput,” ujar Dedy Syafroni.

Lebih lanjut dijelaskan Dedy Syafroni bila setelah ini terbentuk, dalam waktu dekat pihaknya juga bakal melakukan audiensi bersama pihak KPUD Kabupaten Bengkulu Utara.

“Kami disini tidak ada yang mendanai. Karena kita disini berkumpul murni dari panggilan hati. Yang jelas dalam waktu dekat kita baka berkordinasi dengan pihak KPUD Bengkulu Utara. Yang kita lakukan ini bukan sebagai kampanye golput, melainkan menyuarakan kepada masyarakat untuk memilih. Karena kenapa kalau golput itu tidak begitu memberi koreksi. Saya pikir, kalau tidak ada penyeimbang, itu tidak sehat untuk demokrasi. Berbeda pilihan itu biasa saja didalam demokrasi,” tutupnya. (Jenggo)

Komentar

News Feed